Contoh Kuisioner Untuk Pengukuran Berat Badan Ibu Hamil dan penggunaan KB Suntik

HUBUNGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI SUNTIK DENGAN PENINGKATAN BERAT BADAN DAN KETIDAKTERATURAN SIKLUS HAID PADA AKSEPTOR KB  SUNTIK

 

Identitas Responden

Nama Ibu : ………………………………………………………

Umur : ………………………………………………………

Alamat : ………………………………………………………

Variabel Penelitian

  1.  Kontrasepsi Suntik

Sudah berapa lamakah ibu menggunakan kontrasepsi?

: < 1 tahun
: 1 -3  tahun
: > 3 tahun

Jenis Kontrasepsi yang ibu pakai saat ini : ……………..

Suntik

Non Suntik (Pil, Kondom, IUD, Implant, MOW)

Kenaikan Berat Badan

Berat badan ibu sebelum menggunakan kontrasepsi Suntik …….kg.

Berat badan ibu setelah menggunakan kontrasepsi Suntik ……….kg.

Peningkatan berat badan: ….…kg.

: Naik
: Tidak Naik / menurun

 

  1. Ketidakteraturan Siklus Haid

Apakah anda selalu mendapatkan haid setiap bulannya?

: Ya
: Tidak

Jika Ya, apakah ibu mengalami perubahan lamanya haid

: Ya
: Tidak

Berapa lamakah siklus haid yang ibu alami?

: Teratur (siklus 20-35 hari)
: Tidak teratur (siklus < 20 atau > 35 hari

 

Untuk Contoh

KUISIONER

https://drive.google.com/file/d/0B1ziB3s8Lfu9RmlleXBhMDRtT28/view?usp=sharing

Iklan

Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri

Anemia merupakan masalah gizi di dunia, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Angka  anemia gizi besi di Kabupaten Lampung Timur sebanyak 72,3%. Kekurangan besi pada remaja mengakibatkan pucat, lemah, letih, pusing, dan menurunnya konsentrasi belajar. Penyebabnya, antara lain: tingkat pendidikan orang tua, tingkat ekonomi, tingkat pengetahuan tentang anemia dari remaja putri, konsumsi Fe, Vitamin C, dan lamanya menstruasi. Angka prevalensi anemia di Indonesia,  yaitu pada remaja wanita sebesar 26,50%, pada wanita usia subur sebesar 26,9%, pada ibu hamil sebesar 40,1% dan pada balita sebesar 47,0%. Hasil pra survei terhadap 15 remaja putri  yang diperiksa Hb diperoleh hasil sebanyak 12 remaja putri (80%) mengalami anemia. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah faktor-faktor yang berhubungan  dengan  kejadian  anemia  pada  remaja putri kelas VII dan VIII di SMP. Tujuan penelitian adalah diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri
Penelitian ini  merupakan penelitian analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasinya adalah semua remaja putri kelas VII dan VIII di SMP yang berjumlah 220 orang, sedangkan sampel penelitian berjumlah 142 responden yang diperoleh berdasarkan teknik random sampling, dengan menggunakan alat ukur angket. Selanjutnya dianalisis menggunakan analisis univariat untuk mengetahui presentase dan analisis bivariat dengan uji chi square.
Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat kejadian anemia sebesar 65%, persentase lama menstruasi yang lebih dari 7 hari sebanyak 48,6%, persentase pengetahuan yang kurang sebanyak 45,8%, dan persentase pendidikan ibu yang rendah sebanyak 43,7%. Terdapat hubungan antara lama menstruasi dengan kejadian anemia dengan nilai X2 hitung (10,8) > X2 tabel (3,481), Ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian anemia dengan nilai X2 hitung (14,9) > X2 tabel (3,481), Ada hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian anemia dengan nilai X2 hitung (9,7) > X2 tabel (3,481).
Kesimpulan penelitian membuktikan adanya hubungan antara lama menstruasi, pengetahuan dan pendidikan ibu dengan kejadian anemia. Hal ini berarti menunjukkan bahwa faktor lama menstruasi, pengetahuan dan pendidikan ibu merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri. Berdasarkan hasil penelitian agar diupayakan untuk program penanggulangan anemia pada remaja putri kelas VII dan VIII di SMP, yaitu melalui UKS dengan cara menganjurkan guru BP agar bekerjasama dengan puskesmas untuk memberikan tablet Fe pada remaja putri.
Kata Kunci       : Lama Menstruasi, Pengetahuan, Pendidikan ibu, Kejadian Anemia
Daftar Bacaan  : 37 (1972 – 2010)

Anda tertarikUntuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA

Gambaran Kecemasan terhadap Perubahan Fisik Wanita Usia 40-45 Tahun dalam Menghadapai Menopause

Premenopause merupakan suatu fase seorang wanita akan mengalami kekacauan pola menstruasi, rasa panas, kekeringan liang senggama, perubahan kulit, pengeroposan tulang dan perubahan payudara. Perubahan psikologis atau kejiwaan yang terjadi pada pre menopasue seperti takut tua, mudah tersinggung, mudah kaget sehingga jantung mudah berdebar-debar dan terjadi perubahan fisik akan berlangsung selama 4-5 tahun pada usia antara 48-55 tahun.
Subjek dalam penelitian ini adalah semua wanita usia 40-45 tahun yang berada di wilayah kerja Puskesmas Karang Rejo Kecamatan Metro Utara tahun 2009. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Teknik analisa data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data secara univariat, yaitu data yang mendeskripsikan atau menggambarkan data tersebut dalam prosentase yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. populasi dalam penelitian ini adalah semua wanita usia 40-45 tahun yang berada di wilayah kerja Puskesmas Karang Rejo Kecamatan Metro Utara tahun 2009 sejumlah 83 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling (seluruh populasi dijadikan sampel) yang berjumlah 83 orang. Teknik analisa data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data secara univariat, yaitu data yang mendeskripsikan atau menggambarkan data tersebut dalam prosentase yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Pengolahan dan analisa data dilakukan secara manual dengan menggunakan rumus: f/N.
Hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden gelisah dengan tanda-tanda fisik ketidakteraturan haid (41,0%), sebagian besar responden gelisah dengan tanda-tanda fisik gelora panas dan berkeringat (38,6%), sebagian besar responden gelisah dengan tanda-tanda fisik kekeringan vagina (39,8%), sebagian besar responden gelisah dengan tanda-tanda fisik perubahan kulit (33,7%) dan sebagian besar responden gelisah dengan tanda-tanda kerapuhan tulang (38,6%)..
Kepustakaan: 15 (1992-2005).
Kata Kunci: Kecemasan, Perubahan Fisik, Pra Menopause

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Aktivitas Seks Remaja di SMA

Dilihat dari segi penduduk 1/5 atau 20% penduduk di dunia adalah remaja. Indonesia menempati urutan nomor 5 di dunia dalam hal jumlah penduduk, dengan remaja sebagai bagian dari penduduk yang ada. Sekitar satu juta remaja pria (5%) dan 200 ribu remaja wanita (1%) secara terbuka menyatakan bahwa mereka pernah melakukan hubungan seksual. Dari 634 responden remaja di Bandarlampung, sebanyak 13,1%  pernah melakukan petting, 6,5% pernah berhubungan seks melalui oral, 4,6%  pernah melakukan seks via vaginal, 3,5% pernah masturbasi bersama, dan 1,1% pernah berhubungan seks via anal. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan aktivitas seks remaja di SMA Negeri 1 Seputih Banyak Tahun 2011.
Jenis penelitian adalah analitik dengan pendekatan cross sectional, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh  siswa kelas XI sebesar 220 orang, besar sampel menggunakan random sampling sebesar 142 orang. Alat pengumpul data adalah lembar kuesioner, analisa data univariat dengan prosentase dan bivariat dengan chi square.
Hasil penelitian menemukan bahwa aktivitas seks remaja di SMA Negeri 1 Seputih Banyak Tahun 2011, terdapat 122 orang (85,51%) siswa dengan aktivitas Seks  yang ringan, pengetahuan tentang aktivitas seks remaja terbanyak dengan pengetahuan yang baik sebanyak 112 siswa (78,87%), pemahaman agama dengan pemahaman agama yang baik sebanyak 141 Siswa (99,30%), sumber informasi dengan sumber informasi yang banyak yaitu  sebanyak 126 siswa (88,73%), peran keluarga dengan peran yang baik yaitu  sebanyak 126 (88,73%), sosial budaya dengan sosial budaya yang baik yaitu  sebanyak 120 siswa (84,51%), ada hubungan antara pengetahuan dengan aktivitas seks remaja dengan (p value 0,000), tidak ada hubungan dengan pemahaman agama dengan (p value 0,14), ada hubungan dengan sumber informasi dengan (p value 0,02), ada hubungan dengan  peran keluarga (p value 0,012), dan ada hubungan dengan sosial budaya (p value 0,04).
Berdasarkan hasil tersebut maka disarankan kepada guru dan petugas kesehatan UKS untuk bekerja sama dengan orang tua di rumah untuk lebih memperhatikan kesehatan reproduksi remaja melalui sosialisasi dan penyuluhan aktivitas seks dan dampaknnya.
Kata kunci : Aktivitas seks remaja, pengetahuan, pemahaman agama, sumber informasi, peran keluarga, sosial budaya. 
Kepustakaan : 27 (2000-2011)
ABSTRACK

In terms of population 1/5 or 20% of the world’s population are adolescents. Indonesia ranks number 5 in the world in terms of population, with adolescents as part of the existing population. Approximately one million teenage boys (5%) and 200 thousand young women (1%) openly stated that they had sexual intercourse. Of the 634 respondents in Bandar lampung teenagers, as many as 13.1% had done petting, 6.5% had sex through oral, 4.6% sex via vaginal, 3.5% mutual masturbation, and 1.1% anal sex. 
This study generally aims to determine the factors associated with adolescent sexual activity in SMA Negeri 1 Seputih Banyak in 2011. This type of research is cross sectional analytic approach, the population in this study were all students of class XI numbered 220 people, a large sample using a random sampling of 142 people. Data collection tool was a questionnaire, data analysis with univariate and bivariate percentages with chi square. 
The study found that adolescent sexual activity in SMA Negeri 1 Seputih Banyak in 2011, there were 122 people (85.51%) students with mild activity of sex, knowledge about adolescent sexual activity with a good knowledge of most as many as 112 students (78.87% ), the understanding of religion with a good understanding of religion as many as 141 students (99.30%), sources of information with many sources of information that as many as 126 students (88.73%), the role of a good family with a role as many as 126 (88.73 %), social culture with a good socio-cultural as many as 120 students (84.51%), there is a relationship between knowledge by adolescents with sexual activity (p value 0.000), no association with the understanding of religion (p value 0.14) , there is a relationship with information sources with (p value 0.02), there is a relationship with the family role (p value 0.012), and there is a relationship with the socio-cultural (p value 0.04). 
Based on these results it is recommended to teachers and health workers UKS to cooperate with parents in the home for more attention to reproductive health of adolescents through socialization and sexual activity and impact extension.
Key words : adolescent sexual activity, knowledge, understanding religion, the source of information, the role of family, social and cultural. 
Bibliography: 27 (2000-2011)

Anda tertarikUntuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA

Hubungan Antara Umur Dan Paritas Ibu Hamil Dengan Kejadian Perdarahan Ante Partum (PAP) di RSUD

Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi baru lahir (AKBBL) di Indonesia saat ini masih jauh dari target yang harus dicapai pada tahun 2015 sesuai dengan kesepakatan sasaran pembangunan Millenium. Adapun faktor penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan 40-60 %, preeklamsi dan eklampsi 20-30%, infeksi 20-30 %. Perdarahan merupakan faktor terbesar penyebab tingginya AKI. Kejadian plasenta previa dan solusio plasenta bervariasi diberbagai tempat berkisar antara 0,3% sampai 0,6% dari keseluruhan persalinan, sedangkan di rumah sakit lebih tinggi karena menerima rujukan dari luar
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah hubungan antara umur dan paritas Ibu Hamil dengan kejadian perdarahan antepartum di RSUD Ahmad Yani Metro tahun 2010, dengan subjek penelitian adalah ibu hamil denganperdarahan antepartum dan objek penelitian adalah umur dan dan paritas ibu.
Jenis penelitian ini adalah analitik korelasional dengan pendekatan waktu secara cross sectional, dengan populasi adalah seluruh ibu seluruh ibu hamil yang mengalami perdarahan antepartum sebanyak 75 ibu hamil, dimana keseluruhan populasi tersebut dijadikan sampel dengan tehnik total sampling. Untuk mengumpulkan data penulis menggunakan metode angket dengan menggunakan lembar cheklist.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapat hasil bahwa distribusi frekuensi Kejadian perdarahan antepartum terdiri dari 48 kasus plasenta previa (64%), solusio plasenta 27 kasus (36%), umur ibu hamil untuk kejadian plasenta previa terbanyak pada umur yang beresiko (< 20 dan > 35 tahun) (74,5%), dan pada solusio plasenta terbanyak pada umur 20-35 tahun (53,87%), paritas ibu hamil untuk kejadian plasenta previa terbanyak dengan paritas grande multi (78,26%), dan untuk solusio plasenta terbanyak dengan paritas multipara (53,33%), terdapat hubungan antara umur ibu hamil dengan kejadian perdarahan antepartum, dengan nilai x2 hitung 5,988 > dari x2 tabel 3,841, dan terdapat hubungan antara paritas ibu hamil dengan kejadian perdarahan antepartum dengan nilai x2 hitung 6,670 > dari x2 tabel 5,991.
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah distribusi frekuensi  kejadian perdarahan terbanyak adalah plasenta previa dengan umur beresiko (<20 dan > 35 tahun) dan paritas grandemulti, serta terdapat hubungan antara umur dan paritas dengan kejadian perdarahan antepartum di RSUD A. Yani Metro tahun 2010.
Kata Kunci : Perdarahan Antepartum, Umur dan paritas

Anda tertarikUntuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA

Konsep Senam Nifas

Pengertian senam nifas
Senam nifas adalah gerakan untuk mengembalikan otot perut yang kendur karena peregangan selama hamil. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dalam melakukan latihan ini jika timbul rasa nyeri sebaiknya dilakukan perlahan tapi jangan tidak melakukannya sama sekali. Senam ini dilakukan sejak hari setelah melahirkan hingga hari kesepuluh, dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara bertahap yang dimulai dari tahap yang paling sederhana hingga yang dengan mengulang gerakan (Hariningsih, 2004). Senam nifas adalah senam yang dilakukan untuk mengembalikan kekendoran otot dinding perut dan mengembalikan kekencangan otot dasar panggul dan otot liang senggama (Mochtar, Rustam, 1998, hlm. 229).
Senam nifas adalah senam yang dilakukan sejak hari pertama melahirkan setiap hari sampai  hari yang kesepuluh. Tentu saja senam ini dilakukan pada saat sang ibu benar-benar pulih (Muhammad Taufik, 2008). Setelah persalinan seorang ibu baru memasuki masa pemulihannya dan perlahan kembali kekondisi semula, tindakan tirah baring dan senam pasca persalinan membantu proses fisiologis ini  secara perlahan. Senam nifas adalah untuk mempertahankan dan untuk  meningkatkan sirkulasi ibu  pada  masa post  partum segera ketika ia  mungkin beresiko mengalami trombosis vena atau  komplikasi  sirkulasi lain (Eileen Brayshaw, 2007).
Manfaat senam nifas
Adapun beberapa manfaat senam nifas adalah :
  1. Memperbaiki elastisitas otot-otot yang telah mengalami penguluran. 
  2. Meningkatkan ketenangan dan mempelancar sirkulasi darah.
  3. Mencegah pembuluh darah menonjol, terutama di kaki. 
  4. Menghindari pembengkakan pada pergelangan kaki. 
  5. Mencegah kesulitan buang air besar dan buang air kecil. f. Mengembalikan rahim pada posisi semula
  6. Mempertahankan postur tubuh yang baik. 
  7. Mengembalikan kerampingan tubuh.
  8. Membantu kelancaran pengeluaran ASI (Huliana,Mellyana, 2003) 
  9. Manfaat  senam  nifas  adalah  untuk  membantu  memperbaiki  sirkulasi  darah, memperbaiki sikap tubuh dan  punggung setelah melahirkan, memperbaiki otot tonus, pelvis,  dan  perenggangan  otot  abdomen  atau   disebut  juga  pasca  persalinan  dan memperbaiki juga memperkuat otot panggul (Muhammad Taufik, 2008)

Umumnya, wanita yang habis melahirkan kerap mengeluhkan bentuk tubuhnya yang  melar.   Meski  harusnya  dimaklumi,  akibat  membesarnya  otot  rahim  karena pembesaran sel maupun pembesaran ukurannya selama hamil. Selain otot perut pun jadi memanjang sesuai pertumbuhan kehamilan. Setelah melahirkan, otot-otot tersebut akan mengendur. Belum lagi kondisi tubuh yang  kurang prima lantaran letih dan tegang. Sementara peredaran  darah  dan  pernapasan  belum  kembali  normal.  Hingga  untuk membantu mengembalikan tubuh ke bentuk dan kondisi semula, tak bisa lain harus dengan latihan senam nifas yang teratur .
Manfaat lain senam nifas juga untuk mengencangkan otot perut, liang sanggama, otot-otot   sekitar   vagina  maupun  otot-otot  dasar  panggul,  disamping  melancarkan sirkulasi  darah.  Senam   nifas  sebaiknya  dilakukan  dalam  waktu  24  jam  setelah melahirkan,  lalu  secara teratur  setiap  hari.  Sayangnya,  para  ibu  kerap  merasa takut melakukan gerakan demi gerakan setelah persalinan.  Padahal 6 jam setelah persalinan normal atau 8 jam setelah operasi sesar, ibu sudah boleh melakukan  mobilisasi dini, termasuk  senam  nifas.  Dengan  melakukan  senam  nifas  segera  mungkin,  hasil  yang didapat  pun diharapkan  bisa optimal.  Tentunya  lakukan secara bertahap  (Khasanah,2008).
Dengan melakukan senam nifas, kondisi umum ibu jadi lebih baik. Rehabilitasi atau pemulihan jadi bisa lebih cepat, contohnya kemungkinan terkena infeksi pun kecil karena sirkulasi darahnya bagus. Selain menumbuhkan atau memperbaiki nafsu makan, hingga  asupan makannya bisa mencukupi kebutuhannya. Paling tidak, dengan melakukan senam nifas, ibu tak terlihat lesu ataupun emosional.
Bentuk latihan senam antara ibu yang habis melahirkan normal dengan yang sesar tidaklah  sama. Pada mereka yang sesar, beberapa jam setelah keluar dari kamar operasi, pernapasanlah yang  dilatih guna mempercepat penyembuhan luka. Sementara latihan untuk mengencangkan otot perut dan melancarkan sirkulasi darah di tungkai baru dilakukan  2-3  hari  setelah  ibu  dapat  bangun  dari  tempat  tidur.  Sedangkan  pada persalinan normal, bila keadaan ibu cukup baik, semua gerakan senam bisa dilakukan.
Secara umum melahirkan adalah peristiwa berdurasi panjang, yang berarti bahwa ibu mungkin merasa lelah dan sakit serta sistem reproduksinya akan memerlukan waktu untuk pulih dari melahirkan itu sendiri (Helen, Varney, 2003)
Cara dan metode senam nifas
Umumnya, para ibu post  partum takut melakukan banyak gerakan. Sang  ibu biasanya khawatir gerakan-gerakan yang dilakukannya akan menimbulkan dampak yang tidak  diinginkan.  Padahal,  apabila  ibu  bersalin  melakukan  ambulasi  dini,  itu  bisa memperlancar terjadinya proses  involusi uteri (kembalinya rahim ke bentuk semula). Salah satu aktivitas yang dianjurkan untuk dilakukan para ibu setelah persalinan adalah senam nifas. Senam ini dilakukan sejak hari pertama  setelah melahirkan hingga hari kesepuluh. Dalam  pelaksanannya,  harus  dilakukan  secara  bertahap,  sistematis,  dan kontinyu.   Tujuan   senam   nifas ini  di  antaranya memperbaiki sirkulasi darah, memperbaiki sikap tubuh setelah hamil dan melahirkan, memperbaiki tonus otot pelvis, memperbaiki regangan otot abdomen atau perut setelah hamil, memperbaiki regangan otot tungkai bawah, dan  meningkatkan kesadaran untuk melakukan relaksasi otot-otot dasar panggul.
Ada beberapa cara senam nifas :
a.   Asuhan senam nifas atau latihan fisik:
1)  Mengajarkan latihan ringan tertentu yang membantu memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul.
2)  Menjelaskan  pentingnya  pengembalian  otot-otot  perut  dan  panggul kembali  normal.  Ibu  akan  merasa  telah  kuat  dan  menyebabkan  otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung. Jelaskan  bahwa latihan atau senam  beberapa  menit  setiap  hari sangat membantu, seperti:
a)  Latihan pernapasan dan otot perut: 
(1) Dengan tidur telentang
(2) Lengan disamping
(3) Menarik otot selagi menarik nafas
(4) Tahan napas kedalam dan angkat dagu ke dada; tahan 1 hitungan sampai 5
b)  Latihan memperkuat tonus otot vagina (latihan kegel)
(1) Kerutkan  otot  vagina  dan  anus  seperti  menahan  kencing  dan buang air besar dan tahan sampai hitungan 5.
(2) Kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.
(3) Mulai dengan menggerakkan 5 kali latihan untuk setiap gerakan, setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak.
(4) Pada minggu ke 6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali.
b.   Menurut Mellyna Huliana :
  1. Pakaian dilonggarkan, tidur telentang dengan satu bantal kedua lutut lurus dan tangan disamping badan.
  2. Letakkan kedua telapak tangan diatas perut, yaitu di sekitar pusat sebagai perangsang.
  3. Tidur telentang dengan satu bantal, kedua lutut dibengkokkan setengah tinggi dan telapak kaki rata pada kasur.
  4. Tidur telentang dengan satu bantal, kedua lutut dibengkokkan setengah tinggi, lurus dan dirapatkan. Tangan terentang di samping dengan bahu lurus.
  5. Duduk tegak berdiri, kedua tangan saling berpegangan pada lengan bawah dekat siku. Angkat siku sejajar dengan bahu.
  6.  Berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.
  7. Tidur terlentang tanpa bantal dan tangan di samping  badan, kerutkan pantat,  kempeskan perut sehingga bahu menekan kasur, ulurkan leher dan lepaskan.
  8. Posisi duduk atau berdiri, kedua tangan diletakkan di atas sendi bahu.
  9. Berdiri dengan kaki sedikit direnggangkan. (Mellyna, Huliana, 2003)

Menurut Biro Hukum Dan Humas Dep.Kes. RI, latihan senam nifas terdiri dari :
  1. Latihan menarik nafas.Bantal kecil diletakkan dibawah bahu dengan kedua tangan dibawah kepala, wanita menarik nafas panjang dan pelan-pelan.
  2. Berulang-ulang  mengangkat dan menurunkan tungkai, untuk memperkuat otot-otot perut.
  3. Mengangkat tungkai untuk kemudian secara pelan-pelan menurunkannya.
  4. Mengangkat kepala dan bahu untuk memperkuat tonus otot-otot perut.
  5. Bangun dari sikap berbaring ke sikap duduk dengan meluruskan kedua lengan.
  6. Bangun dari sikap berbaring ke sikap duduk dengan menarik kedua tangan dibelakang  kepala (Biro Hukum Dan Humas Dep.Kes. RI, 1997)

Latihan senam post partum harus dilakukan sesegera mungkin. Ibu harus mulai  dengan  latihan  senam  yang  sederhana  kemudian  dilanjutkan  dengan gerakan yang lebih berat, yang dijelaskan dalam bentuk lampiran.
(Bobak, 2002, hlm. 533).

Hubungan antara Tingkat Pendidikan Ibu Hamil dengan Keteraturan Pemeriksaan Kehamilan

Menurut United States Public Health service (1992), pada abad ke-20 pemeriksaan kehamilan telah menjadi salah satu layanan kesehatan yang paling sering digunakan di Amerika. Pada tahun 1998 terdapat lebih dari 41 juta kunjungan prenatal dengan median sebanyak 12,4 kunjungan per kehamilan. Dalam penelitiannya, Kogan dkk (1998) menemukan bahwa dari 54 juta kelahiran hidup hampir seperempat mempunyai penyulit yang bermakna yang dapat diidentifikasi dan dapat diobati. Peningkatan pemeriksaan ini diperkirakan karena bertambahnya jumlah wanita yang hamil, kesadaran dan pengetahuan ibu tentang kehamilan, kemajuan di bidang ilmu kedokteran, dan meluasnya penggunaan ultrasonografi.
Masalah kesehatan ibu dan perinatal merupakan masalah nasional yang perlu mendapat prioritas utama, karena sangat menentukan kualitas sumber daya manusia pada generasi mendatang. Perhatian terhadap ibu dalam keluarga di Indonesia perlu mendapat perhatian khusus karena Angka Kematian Ibu (AKI) masih tinggi sekali bahkan tertinggi diantara negaranegara Association South East Asian Nation (ASEAN). Pada tahun 2007 AKI saat melahirkan sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) 35 per 1.000 kelahiran hidup (Azwar dalam Firdiansyah). Keadaan maternal di Indonesia pada saat ini masih cukup memprihatinkan, khususnya di daerah-daerah pedesaan atau di daerah terpencil. Angka kematian ibu yang melahirkan juga cukup tinggi. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab keadaan tersebut. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah minimnya pengetahuan tentang resiko-resiko kehamilan yang diakibatkan karena rendahnya tingkat pendidikan, pemeliharaan kehamilan, pengetahuan tentang gizi dalam kehamilan, keadaan ekonomi dsb.
Pada umumnya keterbatasan ekonomi menjadi faktor yang dominan dalam mempengaruhi kematian maternal selain pengetahuan atau pendidikan. Keterbatasan ekonomi dapat mendorong ibu hamil tidak melakukan pemeriksaan rutin karena tidak mampu untuk membayarnya. Sementara rendahnya tingkat pendidikan yang mengakibatkan kurangnya pengetahuan tentang kehamilan atau kelainan-kelainan dalam kehamilan kurang diperhatikan yang pada akhirnya dapat membawa resiko yang tidak diinginkan. Akibat dari rendahnya pengetahuan dari ibu hamil tidak jarang kehamilan banyak menimbulkan adanya kematian baik pada ibu maupun pada bayi yang dilahirkan atau bahkan kedua-duanya. Penyebab kematian maternal dapat di bagi dalam beberapa masalah, yang antara lain adalah masalah reproduksi, komplikasi obstetrik, pelayanan kesehatan dan sosial ekonomi dsb.
Tingkat pendidikan dari ibu yang rendah dapat menyebabkan kurangnya pengetahuan ibu tentang kesehatan termasuk di dalamnya tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan (Ida Bagus G, 2002). Salah satu faktor yang banyak memberi pengetahuan pada manusia adalah pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun non formal. Tidak adanya pendidikan pada seseorang dapat menyebabkan kurangnya pengetahuan. Demikian juga dengan ibu hamil yang tidak mengalami atau memperoleh pendidikan tentu saja akan berakibat pada kurangnya pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehamilannya tersebut.
Meningkatkan sumber daya manusia serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat adalah suatu upaya yang dapat kita lakukan dengan tujuan untuk menurunkan angka kematian maternal. Ini dapat diwujudkan dengan meningkatkan mutu dan terjangkaunya pelayanan kesehatan yang makin merata serta mengembangkan pengetahuan, sikap dan perilaku hidup sehat di masyarakat. Salah satu usaha untuk menunjang hal tersebut adalah dengan memberikan pelayanan antenatal (ANC) yang dilaksanakan dengan baik dan sedini mungkin dengan harapan mencegah kematian ibu melahirkan dan kematian bayi serta dengan meningkatkan kualitas sumber daya ibu hamil.
Hasil penelitian dari Anggoro (2005) menunjukkan bahwa tingkat pendidikan Ibu berpengaruh terhadap sikap imunisasi. Selanjutnya, Anggoro menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seorang ibu semakin baik sikap terhadap imunisasi. Yang pada akhirnya telah mempengaruhi perilaku ibu untuk. mendorong melakukan imunisasi. Selanjutnya, Suminah dan dan Anantanya (2002), menyatakan bahwa sebagian besar kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik seseorang terbentuk melalui proses pendidikan. Kognitif merupakan bagian dari komponen aspek sikap yang mendorong orang untuk berperilaku. Selanjutnya, Kardjati (1985) mengatakan bahwa tinggi rendahnya pendidikan Ibu erat kaitannya dengan tingkat pengertian terhadap perawatan kesehatan, serta kesadaran terhadap kesehatan anak-anak dan keluarganya. Dari kajian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan seseorang akan mempengaruhi sikap terhadap kesehatan, yang pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku dalam pemeliharaan kesehatan. Masalah selanjutnya adalah apakah juga terjadi bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan Ibu hamil dengan perilaku pemeriksaaan kehamilan untuk perawatan kesehatan baik untuk ibu dan anaknya.

Pengetahuan dan Praktek pijat bayi 0-6 bulan oleh ibu

Anak merupakan penerus estafet pembangunan bangsa. Pijat merupakan salah satu bentuk terapi sentuh yang berfungsi sebagai salah satu teknik pengobatan penting yang sudah dikenal sejak lama. Pijat berguna tidak hanya untuk bayi sehat tetapi juga bayi sakit. Laporan tertua tentang seni pijat untuk pengobatan tercatat di Papyrus Ebers, yaitu catatan kedokteran pada zaman Mesir Kuno. Di India juga ditemukan Ayur-veda, buku kedokteran tertua (sekitar 1800 sebelum masehi) yang menuliskan tentang pijat, diet, dan olahraga, sebagai cara penyembuhan utama masa itu. Selain itu, sekitar 5000 tahun yang lalu para dokter di Cina dari dinasti Tang meyakini bahwa pijat adalah salah satu dari empat teknik pengobatan yang penting. (Utami Roesli, 2001). 
Dengan berkembangnya dunia kedokteran, berbagai penelitian pun dilakukan. Dimulai di negara-negara maju yang memiliki banyak ahli dan peralatan. Hasil penelitian kedokteran ini justru cenderung mencari terapi yang bersifat alami, menggali kearifan budaya yang ternyata sangat ilmiah yang bermanfaat. Akhirnya, pijat menjadi salah satu terapi yang diteliti (Yazid Subakti, S.Si dan Deri Rizky Anggraini, S.GZ, 2008). 
Begitu dunia kedokteran mengetahui manfaat pijat maka dunia kesehatan anak pun meliriknya. Pijat pada bayi dan anak ternyata merupakan perilaku sehat yang sangat besar kontribusinya dalam meningkatkan pertumbuhan fisik dan mental. (Yazid Subakti, S.Si, dan Deri Rizky Anggraini, S.GZ, 2008) 
Sebenarnya, pijat telah dipraktekkan hampir diseluruh dunia sejakdulu kala, termasuk di Indonesia. (Utami Roesli, 2001). Menurut Dr. Tiffany Fiel Pendiri They Touch Research Institute, Floride. USA, pijatan yang diberikan pada si kecil setiap hari selama 20 menit selama sebulan ternyata tidak hanya membuatnya lebih relaks, tetapi juga dapat membantu menstimulasi saraf otaknya. (http://www.google.co.id). 
Dr. Florentina Uy.Ty dari Philippines Children’s Medical Hospital, Manila dan Dr. H. Dachrul Aldy SP.AK dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatra Utara mengungkapkan sebuah penelitian yang membuktikan bahwa pijat bayi mempersingkat masa tinggal bayi di rumah sakit (setelah dilahirkan) dengan pengurangan tiga hingga enam hari lebih cepat pulang dibandingkan dengan bayi-bayi tanpa pemijatan. Bayi-bayi yang diberikan sentuhan (pijatan) tersebut berat badannya meningkat drastis hingga 47% (Yazid Subakti, S.Si dan Deri Rizky Anggraini, S.GZ 2008). 
Berdasarkan penelitian Cynthia Mersmann, ibu yang memijat bayinya mampu memproduksi ASI perah lebih banyak. Salah satu cara untuk dapat meningkatkan volume ASI yang murah dan mudah ternyata pijat bayi. Ilmu pijat bayi tradisional, dikalangan masyarakat Indonesia sudah lama dikenal, bahkan sampai saat ini masih dilakukan oleh dukun pijat bayi di daerah-daerah (Utami Roesli, 2001). 
Pemijatan pada bayi dapat meningkatkan kesehatan fisik dan kesehatan mentalnya. Aktifitas sepanjang hari dapat menyebabkan keletihan pada bayi. Keletihan tubuh ini dapat dipulihkan dengan pijatan (http://www.google.co.id

Pengetahuan dan Motivasi Ibu Hamil dalam Pelaksanaan Antenatal Care (ANC)

Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 faktor yakni faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Karena itu upaya-upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat harus ditunjukan kepada          4 faktor di atas. Indikator kesehatan masyarakat dapat dilihat dari Umur Harapan Hidup (UHH), Angka Kematian Balita (AKBA), Angka Kematian Neonatal (AKN) dan Angka Kematian Ibu (AKI). AKI merupakan angka yang dilihat dari banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau 42 hari sejak terminasi kehamilan yang disebabkan kehamilan dan pengelolaannya, per 100.000 kelahiran hidup. (Depkes, 2006).
Saat ini AKI di Negara-negara berkembang masih terbilang tinggi dimana setiap tahunnya terdapat sekitar 200 juta ibu hamil dan 500 ribu diantaranya akan meninggal akibat penyebab yang berkaitan dengan kehamilan serta 50 juta lainnya akan menderita akibat komplikasi pada kehamilannya (Depkes, 2007).
Angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2007 AKI di Indonesia yaitu 116 per 100.000 Kelahiran Hidup. Menurut data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BBKBN) Provinsi Lampung menyatakan Angka Kematian Ibu di Lampung masih tinggi, dalam kurun waktu 3 tahun (2003-2005) AKI di Provinsi Lampung mencapai 321 kasus, sedangkan angka kematian bayi (AKB) berjumlah 844 kasus (Profil Kesehatan Lampung, 2007).
Berdasarkan data Human Development Indeks (HDI) atau indeks pembangunan manusia tentang AKI di Provinsi Lampung berada pada level yang memprihatinkan. Seharusnya AKI di Lampung di bawah AKI rata-rata nasional karena target penurunan AKI nasional dari 262 menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010. 
AKI secara langsung di akibatkan oleh perdarahan, gangguan akibat tekanan darah tinggi serta komplikasi dan infeksi pada masa kehamilan. Sementara itu selain karena terlambat dalam mengambil keputusan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan neonatal, secara tidak langsung AKI juga di sebabkan oleh keterlambatan dalam deteksi bahaya dini selama kehamilan, yang diakibatkan masih rendahnya kunjungan ANC 60,3% dari target nasional sebear 80% pada tahun 2007. Hal ini karena masih banyaknya ibu yang menganggap kehamilan dan persalinan adalah sesuatu yang alamiah sehingga tidak memerlukan pemeriksaan dan perawatan, selain itu juga karena sosial budaya yang menganggap bapak adalah yang paling utama (patriarkat) sehingga masalah kesehatan ibu tidak begitu diperhatikan (www.depkes.go.id). 
Dari laporan 212 Dinas Kesehatan Kabupaten tahun 2002 menunjukkan bahwa cakupan K1 secara Nasional sebesar 86,76% serta cakupan K4 sebesar 79,44%. Bila dibandingkan tahun 2001 angka cakupan K1 mengalami penurunan (dari 90,5%), sedangkan cakupan K4 mengalami sedikit peningkatan (dari 74,25%). Menurut hasil SDKI tahun 2007 memperlihatkan bahwa wanita yang pernah melahirkan 93% wanita hamil menjalani pemeriksaan ANC lengkap sesuai standar KIA, persentase pemeriksaan ANC lebih tinggi didaerah perkotaan (71,7%) dibandingkan daerah perdesaan (21,3%) (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, BPS, 2007). 

Penatalaksanaan menyusui bayi 0-6 bulan oleh ibu

ASI adalah makanan terbaik bagi bayi sampai ia berumur sekitar enam bulan, dan setelah itu makanan lain bisa secara bertahap diper¬kenalkan kepadanya sehingga pada akhir tahun pertama, bayi sudah harus mulai makan makanan yang dimasak bagi seluruh keluarga. (Ramaiah, Safitri, 2006)
Memberikan ASI adalah cara terbaik untuk memberi makanan kepada bayi, memberi ASI juga sangat baik bagi ibu karena tindakan ini dapat mengurangi resiko ibu terhadap beberapa penyakit  seperti kanker payudara dankanker indung telur. Menyusui juga merupakan salah satu cara yang hemat dari pada memberikan susu formula, selain itu menyusui dapat menciptakan ikatan khusus antara ibu dan bayimya (Whalley, Janet, dkk, 2008).
Kunci untuk mulai memproduksi ASI dengan sukses adalah membuat bayi menghisap payudara secara sering dan teratur, berdasarkan kebutuhan, dan dengan posisi yang benar. Ibu harus mulai menyusui dalam waktu setengah jam setelah persalinan normal. Hal yang terpenting bagi ibu untuk merasa yakin bahwa ibu akan mengeluarkan ASI sebanyak yang dibutuhkan bayi. Selama satu atau dua hari pertama, kebutuhan bayi sangat sedikit, yang bisa dipenuhi dengan menghisap putting selama beberapa menit kapan pun bayi ingin menyusui. Produksi ASI dan alirannya akan meningkat perlahan-lahan setelah hari kedua (Savitri Ramaiah, 2006)
Oleh karena itu salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana ibu dapat tetap memberikan ASI kepada bayinya secara eksklusif sampai 6 (enam) bulan dan dapat dilanjutkan sampai anak berumur 2 (dua) tahun. Sehubungan dengan hal tersebut telah ditetapkan dengan Kepmenkes RI No. 450/MENKES/IV/2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi Indonesia. Program Peningkatan Pemberian ASI (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif mempunyai dampak yang luas terhadap status gizi ibu dan bayi.
Mengingat pentingnya pemberian ASI bagi tumbuh kembang yang optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasannya, maka perlu perhatian agar dapat terlaksana dengan benar. Mengikuti tehnik menyusui yang benar bermanfaat untuk memastikan bayi memperoleh manfaat terbesar dari menyusui. Adapun faktor kunci dalam menyusui secara efektif diantaranya adalah waktu menyusui, posisi saat menyusui, memperhatikan perlekatan bayi termasuk langkah-langkah yang harus diperhatikan saat menyusui, serta tindakan setelah menyusui yaitu menyendawakan bayi (Ramiah, Savitri, 2006).